PERNAHKAH KITA MENATAP TELAPAK TANGAN AYAH KITA?

 


Tangan yang kini gemetar dan keriput itu, dulunya adalah tangan yang bekerja banting tulang tanpa mengeluh demi memastikan ada nasi di piring kita.
Tangan itu yang dulu memeluk kita saat kita menangis ketakutan di malam hari. Kini, saat beliau menua, lemah, dan ingatannya mulai memudar, tegakah kita melepaskan tangan itu dan membiarkannya terlunta-lunta di jalanan?Ingatlah, kita tidak akan pernah ada di dunia ini tanpa syariat adanya seorang ayah. Jika hari ini kita merasa sukses, berkecukupan, atau sibuk dengan kehidupan kita sendiri, itu semua ada karena tetesan keringat masa lalu ayah kita.
Merawat ayah di usia senjanya bukanlah beban, melainkan kesempatan terakhir kita untuk berbakti sebelum pintu surga itu tertutup selamanya.
Jangan sampai penyesalan datang saat tubuhnya sudah tertimbun tanah, karena saat itu, sejuta air mata pun tidak akan bisa memutar kembali waktu.

Komentar